Minggu, 31 Maret 2019

Pengenalan Tanah di Lapangan


I.    PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang
Tanah adalah lapisan permukaan bumi yang secara fisik berfungsi sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya perakaran penopang tegak tumbuhnya tanaman dan menyuplai kebutuhan air dan udara; secara kimiawi berfungsi sebagai gudang dan penyuplai hara atau nutrisi (senyawa organik dan anorganik sederhana dan unsur- unsur esensial); dan secara biologi berfungsi sebagai habitat biota (organisme) yang berpartisipasi aktif dalam penyediaan hara tersebut dan zat-zat aditif (pemacu tumbuh, proteksi) bagi tanaman.
Tanah berasal dari pelapukan batuan dngan bantuan tanaman dan organisme membentuk tubuh unik yang menyelimuti lapian batuan. Proses pembentukan tanah dikenal sebagai pedogenesis. Proses yang unik ini membentuk tanah sebagai tubuh alam yang terdiri atas lapian-lapisan atau disebut sebagai horison. Setiap horison dapat menceritakan asal dan proses-proses kimia, fisika dan biologi yang telah dilalui tubuh tanah tersebut.
Tanah sebagai media tumbuh mempunyai empat fungsi utama, yaitu sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya perakaran, penyedia kebutuhan primer tanaman untuk melaksanakan aktivitas metabolismenya baik selama pertumbuhan maupun untuk berproduksi, penyedia kebutuhan sekunder tanaman yang berfungsi dalam menunjang aktivitasnya supaya berlangsung optimum, dan habitat biota tanah baik yang berdampak positif maupun yang berdampak negatif.
Profil tanah merupakan suatu irisan melintang pada tubuh tanah, dibuat dengan cara menggali lubang dengan ukuran (panjang dan lebar) tertentu dan kedalman yang tertentu pula sesuai dengan keadaan tanah dan keperluan penelitiannya. Berdasarkan uraian di atas maka perlu dilakukan pengamatan profil tanah dalam langkah awal penelitian dan pengamatan terhadap tanah. Dari pengambilan sampel tanah yang dilakukan pada berbagai lapisan tanah tersebut kita dapat mengetahui karakteristik tanah, tekstur, warna, dan pH tanah.


1.1.Tujuan Praktikum
Pemboran bertujuan untuk memperoleh informasi secara sepintas tentang beberapa sifat tanah seperti tekstur tanah, warna, kedalaman, efektif (solum, konsitensi, ketebalan horison dan perubahan batuan di permukaan dan didalam tanah.



















II.  TINJAUAN PUSTAKA


Tanah merupakan hasil transformasi zat-zat mineral dan organik di muka daratan bumi. Tanah terbentuk di bawah pengaruh faktor-faktor lingkungan yang bekerja dalam masa yang sangat panjang. Tanah mempunyai organisasi dan morfologi. Tanah merupakan media bagi tumbuhan tingkat tinggi dan pangkalan hidup bagi hewan dan manusia. Tanah merupakan sistem ruang waktu, bermata empat  (Sutanto, 2005).
Profil tanah merupakan suatu irisan melintang pada tubuh tanah dibuat dengan cara menggali lubang dengan ukuran (panjang dan lebar) tertentu dan kedalaman yang tertentu pula sesuai dengan keadaan-keadaan tanah dan keperluan penelitian. Tekanan pori diukur relative terhadap tekanan atmosfer dinamakan muka air tanah. Tanah yang diasumsikan jenuh walaupun sebenarnya tidak demikian karena ada rongga-rongga udara (Wijaya, 2013).
Tanah menurut soil survey staff (1999; 2003) adalah kumpulan benda alami di permukaan bumi yang setempat-setempat dimodifikasi atau bahkan dibuat oleh manusia dari bahan-bahan tanah, mengandung gejala-gejala kehidupan dan menopang atau mampu menopang pertumbuhan tanaman di lapangan. Tanah meliputi horizon-horizon tanah yang terletak di atas bahan batuan dan terbentuk sebagai hasil interksi sepanjang waktu dari iklim, mahkluk hidup (organisme), bahan induk dan relief (topografi) (Rayes, 2006).
Menurut Brady (1974) setiap tanah itu, horison-horisonnya mencirikan dan sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman tingkat tinggi. Pada suatu profil tanah yang lengkap dapat kita lihat beberapa lapisan yang membentuk tanah. Adanya lapisan-lapisan dalam tanah ini karena berlangsungnya perombakan yang tidak sama. Lain halnya pada tanah yang tergolong entisol, disini lapisan-lapisan merupakan hasil penimbunan bahan yang berasal dari tempat lain. Lapisan-lapisan yang terbentuk sebagaimana kita lihat pada profil tanah dapat dikatakan tidak selamanya tegas dan nyata sehingga kerap kali batas-batasnya agak kabur dan kejadian demikian akan menyulitkan dalam penelitian (Sutejo & Kartasapoetra, 1991).

Struktur tanah merupakan gumpalan tanah yang berasal dari partikel-partikel tanah yang saling merekat satu sama lain karena adanya perekat misalnya eksudat, akar, hifa jamur, lempung, humus, dll (Ariyanto, 2009).




















III.           METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1         Tempat dan waktu
Praktikum yang berjudul pengenalan tanah dilapangan dilaksanakan dilaboratorium mineral dan klasifikasi tanah pada tanggal 18 maret 2018 pukul 10.00 Wib. Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala.

3.2              Alat dan Bahan
3.2.1. Alat
1. Bor Tanah
2. Buku Munsell
3. Kantong Plastik
4. Spidol
5. Meteran
6. Pisau
7. pH Teskil, dll.
3.2.2. Bahan
1. Aquadest
2. Hcl
3. H2O2



3.3.      Cara Kerja
A. Cara pemboran di lokasi
1. Lokasi pemboran harus dibersihkan dari vegetasi
2. Sampah, tetapi tidak menganggu lapisan permukaan tanah
3. Pemboran dilakukan hati-hati, usahakan mata bor tetap tegak lurus
4. Diputarlah dan ditekan bor, sampai seluruh mata bor  (20cm) masuk kedalam tanah.
5. Dikeluarkan mata bor dari dalam tanah secara perlahan-lahan dan mata bor jangan diputar
6. Seterusnya mata bor diletakkan diatas plastik, kemudian keluarkan tanah dengan mata pisau dari mata bor dan tampung  diatas alas yang telah disediakan.
7. Dengan jalan yang sama (2 s/d 6) lakukan sampai kedalamnan 150 cm atau menurut kedalaman yang dibutuhkan dan sampai dimana mata bor masuk kedalam tanah.
8. Tanah dari mata bor disususn secara sistematik mulai dari atas sampai yang paling bawah
9. Kemudian lakukan pengamatan dengan mencata beberapa sifat tanah seperti tercantum dalam daftar isian pemboran (lihat petunjuk pengisian form deskripsi tanah).

B. Cara kerja pembuatan Profil tanah
1. Dibersihkan permukaan tanah pada bagian profil tanah yang akan digali.
2. Diberikan tanda dan di beri garis dengan tanda P x L =150 x 100 cm
3. Digali dengan cangkul sampai kedalaman 150 cm
4. Penampang tanah yang hendak diperiksa harus mendapatkan sinar matahari langsung
5. Tanah galian jangan ditimbun pada sisi penampang pemeriksa
6. Dibuatkan tangga untuk memudahkan pemeriksaan
7. Pengamatan dapat dimulai dengan ketentuan sebagai berikut :
a. Penampang pemeriksaan harus bersih
b. Semua alat dan bahan harus bersih
c. Jangan lakukan pengamatan pada saat sore dan turun hujan.
d. Disemprotkan sedikit air pada penampang jika tanahnya sangat kering
8.Sediakan daftar isian profil tanah  dan alat tulis menulis, catat hasil pengamatan secara berturut-turut.
a. Dibuatlah tusukan dan congkelan pada penampang
b. Sambil memperhatikan tekstur warna dan lainnya, tandailah batas lapisan dan horizon.
c. Diberikan masing-masing nomor horizon pada topografinya
d. Diamati dan tentukan horizon
e. Diberi simbol/horizon sesuai didapat
f. Diambil contoh tanah sebagai berikut:
- tanah diamabil dengan cangkul sebanyak 1 kg dari setiap lapisan
- contoh lapisan tanah yang diambil harus ditengah-tengah
-berikan label pada kantong plastik tempat sampel tanah itu untuk keperluan analisis dilaboratorium
9. setelah selesai tanah galian ditimbun kembali.

V.   PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Lokasi yang pertama ini diamati di lokasinya berada di Kebun Kurma Barbate, Mesjid Raya, Aceh besar . Fisiografinya adalah Berbukit, Relief makronya berbukit bergelombang sedangkan relief mikronya kaki bukit dan lembah. Topografi di daerah Barbate tersebut adalah cekung dan cembung, dengan Tinggi d.m. laut 138 m dpl. Arah ekksposisinya ke arah utara. Cuaca pada saat itu adalah cerah. Dan keadaan batunya adalah batuan kecil. Dan terjadinya erosinya sedikit tererosi. Begitupula pertumbuhan disana banyak tumbuh tanaman. Dan adanya pengaruh manusia di tanah tersebut seperti pembuatan dainase oleh manusia.
Karakteristik profil tanah pada lahan ini, profil tanahnya terdiri dari 4 lapisan dimana  tanah pada lapisan pertama adalah 0-13 cm, kedua 13-32 cm, lapisan ketiga 32-45 cm dan lapisan keempat adalah 45-120 cm. Mengenai warna tanah, penetapan warna tanah dilakukan secara kuantitatif menggunakan kartu warna Soil Munsell Color Charts. Teksturnya adalah lempung liat berdebu. Tekstur tanah adalah proporsi atau perbandingan relatif dari komposisi fraksi-fraksi penyusun tanah dominan. Pengamatan tekstur di lapangan dilakukan dengan cara dipilin. Dari pilinan tersebut maka akan terasa fraksi apa yang dominan. Disebut lempung liat berdebu karena keempat fraksi tanah terasa, namun yang lebih dominan adalah fraksi lempung.
Mengenai struktur tanahnya, struktur tanah adalah susunan zarah-zarah tanah yang saling berikatan membentuk agregat dengan bantuan bahan sedimentasi atau perekat.  Pada lapisan ke 1 ini tipe struktur  adalah gumpal bersudut, kelas srtukturnya adalah gumpal. Kemudian mengenai konsistensinya adalah teguh dan agak lekat.  Pada lapisan ke 2 ini tipe struktur adalah gumpal bersudut, kelas strukturnya adalah teguh. Kemudian mengenai konsistensinya adalah teguh dan agak lekat.  Pada lapisan ke 3 ini tipe struktur adalah gumpal bersudut, kelas srtukturnya adalah gumpal. Kemudian mengenai konsistensinya adalah teguhdan agak lekat. Pada lapisan ke 4 ini adalah tipe struktur gumpal bersudut, kelas srtukturnya adalah gumpal. Kemudian mengenai konsistensinya adalah gembur.

4.2 Pembahasan
Pada saat diuji coba dilakukan tiga perlakuan, yaitu yang pertama adalah tanah diberi H2O2 10% untuk menguji kandungan bahan organic (BO), yang kedua diberi H2O2 3% untuk menguji kandungan Mn dan yang terakhir diberi HCl untuk menguji kandungan kapur. Pada perlakuan pertama, yaitu ketika diberi H2O2 10%, pada lapisan pertama berbuih banyak, pada lapisan kedua berbuih banyak, pada lapisan ketiga berbuih banyak dan yang lapisan keempat jumlah buihnya sedikit. Pada perlakuan kedua yaitu ketika diberi H2O2 30%, pada lapisan pertama jumlah buih yang muncul adalah banyak, pada lapisan kedua berbuih banyak, pada lapisan ketiga berbuih banyak dan pada lapisan keempat tidak banyak berbuih.
 Pada perlakuan yang ketiga, yaitu ketika tanah diberi HCl , pada lapisan pertama profil tanah tidak berbuih, pada lapisan kedua profil tanah tidak berbuih, pada lapisan ketiga profil tanah tidak berbuih dan pada lapisan keempat tidak berbuih juga. Pada pengamatan terhadap karakteristik profilnya, tanah ini memiliki 4 lapisan. Lapisan I  terletak pada 0-13 cm, lapisan II terletak pada 13-32 cm, lapisan III terletak pada 32-45 cm dan lapisan III terletak pada jeluk 45-120 cm. Matriks warna tanah yang ditemukan cukup bervariasi, hal ini tergantung dari kadar kandungan bahan organiknya. Lapisan I mememiliki lapisan matrik warna tanah yaitu diketahui 2.5 YR 3/4. Lapisan II mememiliki lapisan matrik warna tanah yaitu diketahui 5 YR 3/3. Sementara itu di lapisan III dan IV matrik warna tanah yang sama 5 YR 4/4.
Menurut teksturnya, keempat lapisan sama yaitu berupa teguh. Hal ini disebabkan adanya penggabungan dari podzolik merah dan podzolik kuning. Menurut strukturnya lapisan terbagi atas dua tipe yaitu gumpal menyudut dan gumpal membulat. Penentuan tipe lapisan dilakukan dengan melakukan pemilinan terhadap tanah dari masing-masing lapisan. Kemudian untuk lapisan I sampai dengan lapisan IV memiliki derajat lereng yang sama yaitu <8 % . Semua lapisan memiliki konsistensi yang sama pula yaitu lepas-lepas. Konsistensi ini dipengaruhi oleh erosi yang terjadi dan kandungan lempung yang sedikit.
Mengenai ukuran perakaran, lapisan I sampai dengan lapisan IV memiliki ukuran perakaran yang berbeda-beda. Lapisan I memiliki ukuran perakaran meso dan jumlah akar yang sedikit, lapisan II memiliki ukuran perakaran makro dan jumlah akar yang sedang, sedangkan lapisan III dan IV memiliki ukuran perakaran meso-makro dan jumlah akar yang banyak. Ketika diuji dengan khemikalia BO dengan H2O2 10%  semua lapisan tanah menunjukkan hasil yang dominan dengan jumlah positif  3. Hal ini menunjukkan bahwa semua lapisan memiliki kandungan bahan organic yang banyak. Hal ini dikarenakan pada lapisan tersebut sudah mengalami dekomposisi yang sempurna dan tak dapat dijangkau oleh perakaran sehingga kandungan BO tinggi.
 Untuk menguji kandungan Mn, digunakan (H2O2 30%) dengan komposisi kandungan tertinggi ada pada lapisan I dan II. Sedangkan untuk menguji kandungan kapur dengan menggunakan (HCl 2N) hasilnya tidak ditemukan kandungan kapur di semua lapisan. Karena tanah tersebut tidak berbuih. Pengujian terakhir terhadap pH tiap lapisan tanah menunjukkan hasil yang sama yaitu 5 pada semua lapisan. Sehingga keasaman jenis tanah ini termasuk tinggi, karena kejenuhan basanya hanya sekitar 30%. Berdasarkan hasil morfologi tapak dan karakteristik profil, dapat diketahui bahwa klasifikasi tanah yang ada pada profil tanah berupa Podzolik Merah Kuning (menurut PPT), Latosol (menurut FAO), dan Ultisol (menurut USDA).
Podzolik merah kuning ialah nama kelompok tanah yang terdiri atas dua jenis tanah, yaitu tanah podzolik merah dan tanah podzolik kuning. Dalam klasifikasi kedua jenis tanah ini, perlu dipilah karena beberapa sifat diagnostiknya berbeda, yaitu warna, regim lengas tanah dan pH. Jenis yang merah mempunyai regim lengas tanah lebih kering dan pH lebih tinggi (kurang masam) daripada jenis yang kuning. Akan tetapi jika dilihat dari sudut pertaniannya secara umum, kedua jenis tanah ini dapat disamakan karena kemiripan cirri-ciri yang menjadi kendala utama budidaya tanaman.
Podzolik merah kuning berkendala ganda yang berkenaan dengan segala sifatnya, yaitu fisik, fisiokimia, kimia, biologi, dan morfologi. Maka dari itu, untuk mengelola tanah semacam ini, yang bertujuan meningkatkan harkatnya dari piasan (marginal) menjadi berproduktifitas memadai secara berkelanjutan, diperlukan suatu teknologi yan gdapat menyelesaikan semua persoalan sekaligus. Teknologi yang diterapkan saat ini tidak sesuai untuk tanah-tanah berkendala ganda. Hasil panaen tinggi tidak akan bertahan lama karena teknologi yang ada tidak berdasarkan ekologi, sehingga tanah secara berangsur akan mengalami degradasi.
Warna tanah dipengaruhi oleh bahan organic tanah, mineral, darainase, kandungan air dan aerasi.  Percobaan dilakukan dengan kasat mata dan selanjutnya tanah tiap lapisan dianalisis dengan buku Munsell soil color chart.  Pada lapisan pertama warna pengamatan adalah hitam.  Lapisan kedua warna pengamatannya adalah hitam kecokelatan, ketiga cokelat kemerahan, keempat merah kecokelatan dan lapisan kelima berwarna lebih cerah dari lapisan sebelumnya.  Setelah dianalisis dengan buku Munsell soil color chart,diperoleh warna yang berbeda dari pengamatan kasat mata.
Warna tanah merupakan ciri penting yang harus diketahui dalam pemerian tanah, karena berkaitan erat dengan jenis dan kandungan bahan organik, drainase dan aerasi tanah dalam hubungannya dengan hidratasi, oksidasi, dan proses pelindian, tingkat perkembangan tanah, dan kadar lengas tanah. Penetapan warna tanah dilakukan secara kuantitatif dengan menggunakan kartu warna Soil Munsell Color Charts yang disusun atas 3 unsur yaitu: HUE (menunjukkan spectrum warna yang merajai, yang membedakan warna merah sampai kuning). VALUE (menunjukkan tingkat kecerahan warna dengan warna putih sebagai pembanding). CHROMA ( kemurnian warna, semakin besar semakin keruh ).
Berdasarkan pengamatan, diperoleh data tekstur tanah yaitu, lapisan pertama bertekstur lempung berliat, lapisan kedua bertekstur lempung liat berdebu, lapisan ketiga bertekstur liat berdebu, lapisan keempat bertekstur lempung liat berpasir dan tekstur kelima  bertekstur lempung berpasir. Macam-macam tipe struktur tanah yaitu lempeng, tiang, gumpal, rwmah, granulair, butir tunggal, pejal dengan kelas halus, sangat halus, sedang, kasar dan sangat kasar.  Dari hasil pengamatan diperoleh bahwa tanah contoh memiliki struktur tanah remah (crumb). Dengan cirri-ciri yaitu bersifat porous, bulat, ukuran kecil, agregat tidak terikat satu sama lain.  Sedangkan tekstur tanah diamati dengan meremas tanah contoh dengan tanah.







V.  PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari hasil pengamatan yang dilakukan minggu lalu bahwa dapat diambil kesimpulan yaitu :
1.      Pada pengamtan profil tanah pada lapisan I 0-20 cm, lapisan II 20-40 cm, lapisan III 40-60 cm, lapisan IV 40-60 cm, lapisan V 60-112 cm, lapisan VI 112-144 cm.
2.      Pada tanah lapisan I memiki warna Dark Yellow With Brown, Lapisan II Dark Yellow With Brown, Lapisan III Red, Lapisan IV Red, Lapisan V Reddish Yellow.
3.      Pada tanah lapisan I tekstur tanah  lempung berpasir, Lapisan II lempung berpasir, lapisan III lempung berliat, Lapisan IV  berbentukn liat berdebu.
4.      Kandungan tanah  pada lapisan III yaitu fe dan tanah lapisan IV mengandung Fe dan tag
5.      Tipe perkembangan dan kematangan tanah pada lapisan I,II,III memiliki tipe 1 m (lemah) ,dan IV  dan V bertipe sedang.
6.      Konsistensi tanah pada lapisan I,II,III memiliki tipe konsistensi  alk (agak lekat) ,dan IV dan V memiliki konsistensi bertipe sedang.
7.      Reaksi tanah terhadap Hcl pada tanah lapisan I Lapisan V tidak benapur, sedangkan pada lapisan I dan II reaksi terhadap H2O sedang, lapisan III dan IV rendah, lapisan V tinggi.








DAFTAR  PUSTAKA

Ariyanto.2009Dasar-Dasar Kimia Tanah. Balai Penelitian The dan Kina : Bandung.
Rayes.2006 Dasar-dasar Ilmu Tanah. Gadjah Mada University : Yogyakarta.
Sutanto, Rachman. 2005. Morfologi dan Klasifikasi Tanah. Universitas Andalas : Padang
Sutejo dan kartasapoetra. 1991Dasar-dasar Ilmu Tanah. Rajawali Persada : Jakarta
Wijaya. 2013. Dasar-Dasar Ilmu Tanah Konsep dan Kenyataan. Yogyakarta : Kanisius



Pengukuran Transpirasi Tanaman


Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan

PENGUKURAN TRANSPIRASI TANAMAN

Hari/Jam  : Rabu/08.00-9.45 WIB
Asisten     : Juli Astri

Oleh :
KELOMPOK 6
NAMA                                                NIM
1.      Fahrur Rozi Pasi                            1805108010029
2.      Reva Fazira                                   1805108010045
3.      Safriadi                                         1805108010033
4.      Sarah Nadia                                  1805108010056













LABORATORIUM FISIOLOGI TUMBUHAN
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM BANDA ACEH
2019
I. PENDAHULUAN

A.Latar Belakang
            Transpirasi pada hakikatnya adalah penguapan. Transpirasi adalah proses hilangnya air dalam bentuk uap air dari jaringan hidup tanaman yang terletak di atas permukaan tanah melewati stomata, lubang kutikula, dan lentisel. Transpirasi merupakan pengeluaran berupa uap H2O dan CO2, terjadi siang hari saat panas, melaui stomata (mulut daun) dan lentisel (celah batang). Transpirasi berlangsung melalui bagian tumbuhan yang berhubungan dengan udara luar, yaitu melalui pori-pori daun seperti stomata, lubang kutikula, dan lentisel oleh proses fisiologi tanaman.
Transpirasi dalam tanaman atau terlepasnya air melalui kutikula hanya 5-10% dari jumlah air yang ditranspirasikan. Air sebagian besar menguap melalui stomata, sekitar 80% air ditranspirasikan berjalan melewati stomata, sehingga jumlah dan bentuk stomata sangat mempengaruhi laju transpirasi. Selain itu transpirasi juga terjadi melalui luka dan jaringan epidermis pada daun, batang, cabang, ranting, bunga, buah dan akar.
Tidak semua tumbuhan mengalami proses transpirasi. Sedangkan pada tumbuhan yang mengalami proses ini, transpirasi terkadang terjadi secara berlebihan sehingga mengakibatkan tumbuhan kehilangan banyak air dan lama kelamaan layu sebelum akhirnya mati.
Ada tiga tipe transpirasi,yaitu : transpirasi kutikula,transpirasi stomata dan transpirasi lentikuler. Kegiatan transpirasi terpengaruh oleh banyak faktor baik faktor-faktor dalam maupun faktor-faktor luar, Antara lain faktor dalam: besar kecilnya daun, tebal tipisnya daun, berlapiskan lilin atau tidaknya permukaan daun, banyak sedikitnya bulu di permukaan daun, banyak sedikitnya stomata,  bentuk dan lokasi stomata. Faktor luar: sinar matahari, temperatur, keembaban udara, angin dan keadaan air di dalam tanah.
Pengukuran laju transpirasi tidaklah terlalu mudah dilakukan. Kesulitan utamanya adalah karena semua cara pengukuran traspirasi mengharuskan penempatan suatu tumbuhan dalam berbagai kondisi yang mempengaruhi laju transpirasi. Ada beerapa cara laboratorium untuk menaksir laju transpirasi yaitu:  Metode kertas korbal klorida, Pada dasarnya cara ini adalah pengukuran uap air yang hilang ke udara yang diganti dengan pengukuran uap air yang hilang ke dalam kertas kobal klorida kering. Kertas ini berwarna biru cerah dan tetapi menjadi biru pucat dan kemudian berubah menjadi merah jambu bila menyerap air. Sehelai kecil kertas biru cerah ditempelkan pada permukaan daun dan ditutup dengan gelas preparat. Demikian juga bagian bawah daun. Waktu yang diperlukan untuk mengubah warna biru kertas menjadi merah jambu dijadikan ukuran laju kehilangan air dari bagian daun yang ditutup kertas. Metode potometer, Alat ini mengukur pengambilan air oleh sebuah potongan pucuk, dengan asumsi bahwa bila air tersedia dengan bebas untuk tumbuhan, jumlah air yang diambil sama dengan jumlah air yang dikeluarkan oleh transpirasi.


B. Tujuan Praktikum
            Adapun tujuan dari percobaan praktikum ini adalah untuk menetapkan atau mengukur transpirsi pada tanaman.


II. TINJAUAN PUSTAKA

Transpirasi adalah hilangnya air dari tubuh-tumbuhan dalam bentuk uap melalui stomata, kutikula atau lentisel. Ada dua tipe transpirasi, yaitu (1) transpirasi kutikula adalah evaporasi air yang terjadi secara langsung melalui kutikula epidermis; dan (2) transpirasi stomata, yang dalam hal ini kehilangan air berlangsung melalui stomata. Kutikula daun secara relatif tidak tembus air, dan pada sebagian besar jenis tumbuhan transpirasi kutikula hanya sebesar 10 persen atau kurang dari jumlah air yang hilang melalui daun-daun. Oleh karena itu, sebagian besar air yang hilang melalui daun-daun (Wilkins, 1989).
Kecepatan transpirasi berbeda-beda tergantung kepada jenis tumbuhannya. Bermacam cara untuk mengukur besarnya transpirasi, misalnya dengan menggunakan metode penimbangan. Sehelai daun segar atau bahkan seluruh tumbuhan beserta potnya ditimbang. Setelah beberapa waktu yang ditentukan, ditimbang lagi. Selisih berat antara kedua penimbangan merupakan angka penunjuk besarnya transpirasi. Metode penimbangan dapat pula ditujukan kepada air yang terlepas, yaitu dengan cara menangkap uap air yang terlepas dengan dengan zat higroskopik yang telah diketahui beratnya. Penambahan berat merupakan angka penunjuk besarnya transpirasi (Tjitrosoepomo, 1998).
Proses transpirasi ini selain mengakibatkan penarikan air melawan gaya gravitasi bumi, juga dapat mendinginkan tanaman yang terus menerus berada di bawah sinar matahari. Mereka tidak akan mudah mati karena terbakar oleh teriknya panas matahari karena melalui proses transpirasi, terjadi penguapan air dan penguapan akan membantu menurunkan suhu tanaman. Selain itu, melalui proses transpirasi, tanaman juga akan terus mendapatkan air yang cukup untuk melakukan fotosintesis agar kelangsungan hidup tanaman dapat terus terjamin (Sitompul, 1995).
Transpirasi juga merupakan proses yang membahayakan kehidupan tumbuhan, karena kalau transpirasi melampaui penyerapan oleh akar, tumbuhan dapat kekurangan air. Bila kandungan air melampaui batas minimum dapat menyebabkan kematian. Transpirasi yang besar juga memaksa tumbuhan mengedakan penyerapan banyak, untuk itu diperlukan energi yang tidak sedikit. Kegiatan transpirasi dipengaruhi oleh banyak faktor baik faktor dalam maupun faktor luar. Yang terhitung sebagaio faktor dalam adalah besar  kecilnya daun, tebal tipisnya daun, berlapis lilin atau tidaknya stomata. Hala-hal ini semua mempengaruhi kegiatan trasnpirasi pada tumbuhan (Salisbury, 1992).
Kegiatan transpirasi secara langsung oleh tanaman dipandang lansung sebagai pertukan karbon dan dalam hal ini transpirasi sangat penting untuk pertumbuhan tanaman yang sedaang tumbuh menentukan banyak air jauh lebih banyak daripada jumlah terhadap tanaman itu sendiri kecepatan hilangnya air tergantung sebagian besar  pada  suhu kelembapan relatif  dengan gerakan udara. Pengangkutan garam-garam mineral dari akar ke daun terutama oleh xylem dan secepatnya mempengaruhi oleh kegiatan transpirasi. Transpirasi pada hakikatnya sama dengan penguapan, akan tetapi istilah penguapan tidak digunakan pada makhluk hidup. Sebenarnya seluruh  bagian tanaman mengadakan transpirasi karena dengan adanya transpirasi terjadi  hilangnya molekul sebagian besar adalah  lewat daun hal ini disebabkan luasnya permukaan daun  dan karena daun-daun itu lebih terkena udara dari pada bagian lain dari  suatu tanaman (Lakitan, 2007).











III. BAHAN DAN METODE PERCOBAAN

A.  Tempat dan Waktu Percobaan
Praktikum Fisiologi Tumbuhan tentang Jaringan Pengangkut Air yang dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala. Pada hari Rabu, 20 Maret 2019, pukul 08.00 WIB.

B.  Bahan dan Alat Percobaan
Bahan Tanaman : Tanaman Cabai (Capsicum frustescens)
Alat - alat           : Kantong plastik, karet gelang timbangan, kipas angin, leaf area meter.

C.  Metode Kerja
1.    Dibungkus pot dengan kantong plastik yang diikat dengan karet gelang pada tanaman cabai.
2.    Ditimbang berat total tanaman dan pot.
3.    Diletakkan tanaman pada tempat yang terkena cahaya matahari penuh untuk meringankan laju transpirasi.
4.    Ditimbang tanaman berulang-ulang dengan interval waktu 30 menit,60 menit, 90 menit, dan 24 jam.
5.    Pada akhir percobaan diukur luas daun dengan alat leaf area meter.
6.    Dihitung air yang hilang persatuan waktu (mg/cm₂/det) atau (mg/cm₂/jam).







IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A.  Hasil Pengamatan
Pengukuran Transpirasi Tanaman Per Unit Luas Daun

Interval Waktu Penimbangan
Berat Tanaman
1
2
0 Menit
700 gr
750 gr
30 Menit
750 gr
750 gr
60 Menit
750 gr
800 gr
90 Menit
800 gr
800 gr
120 Menit
-
-
24 Jam
700 gr
600 gr

Sampel Tanaman
Luas Daun
1
64, 2
2
70,2

Text Box: A=BC/D
BC
D
Rumus :         


Keterangan :
B = Berat daun
C = Luas kertas
D = Berat kertas
A = Luas daun

Tanaman 1 : A
    =  0,54 x 25
            0,21
    = 13,5
       0,21
    = 64, 2
Tanaman 2 :       
    =  0,59 x 25
            0,21
    = 14,75
       0,21

A = 70,2    

B.  Pembahasan
 Pada pengamatan laju transpirasi pada tanaman cabai, hasil yang diperoleh pada penimbangan awal selama 30 menit pertama yaitu pada tanaman 1 dan 2 sebesar 750 gram. Pada  penimbangan 60 menit hasil yang diperoleh pada tanaman 1 yaitu 750 gram  dan pada tanaman ke-2 yaitu 800 gram. Penimbangan pada waktu 90 menit hasil yang diperoleh pada tanaman 1 dan 2 yaitu sebesar  800 gram.  Dan pada penimbangan 24 jam terakhir diperoleh pada tanaman 1 yaitu sebesar 700 gram dan pada tanaman ke-2 yaitu 600 gram. Serta pada sampel tanaman 1 diperoleh luas daun sebesar 64,2 dan pada sampel tanaman 2 yaitu 70,2.
Praktikum transpirasi ini bertujuan untuk mengukur laju transpirasi melalui daun tanaman dengan metode penimbangan. Metode tersebut digunakan karena dianggap paling efektif dan memungkinkan dilakukan untuk tanaman yang kecil dan cukup menggunakan kantong plastik, sehingga pengukuran laju transpirasi dapat dilakukan pada skala laboratorium.
 Proses keluarnya atau hilangnya air dari tubuh tumbuhan dapat berbentuk gas ke udara disekitar tumbuhan dinamakan transpirasi.   Transpirasi dapat diartikan sebagai proses kehilangan air dalam bentuk uap tumbuhan melalui stomata, kemungkunan kehilangan air dari jaringan tanaman melalui bagian tanaman yang lain dapat saja terjadi, tetapi porsi kehilangan tersebut sangat kecil dibandingkan dengan yang hilang melalui stomata.
Walaupun beberapa jenis tumbuhan dapat hidup tanpa melakukan transpirasi, tetapi jika transpirasi berlangsung pada tumbuhan agaknya dapat memberikan beberapa keuntungan bagi tumbuhan tersebut misalnya dalam mempercepat laju pengangkutan unsur hara melalui pembukus xylem, menjaga turgiditas sel tumbuhan agar tetap pada konstan, sebagai salah satu cara untuk menjaga stabilitas suhu.
Laju transpirasi dipengaruhi oleh ukuran tumbuhan, kadar CO2, cahaya, suhu, aliran udara, kelembaban, dan tersedianya air tanah.  Faktor-faktor ini mempengaruhi perilaku stoma yang membuka dan menutupnya dikontrol oleh perubahan tekanan turgor sel penjaga yang berkorelasi dengan kadar ion kalium (K+) di dalamnya. Selama stoma terbuka, terjadi pertukaran gas antara daun dengan atmosfer dan air akan hilang ke dalam atmosfer.  Untuk mengukur laju transpirasi tersebut dapat digunakan potometer. Sebagian besar transpirasi berlangsung melalui stomata sedang melalui kutikula daun dalam jumlah yang lebih sedikit. Transpirasi terjadi pada saat tumbuhan membuka stomatanya untuk mengambi karbon dioksida dari udara untuk berfotosintesis.











V. KESIMPULAN DAN SARAN

A.Kesimpulan
Adapun kesimpulan pada percobaan ini adalah:
1.      Pengukuran laju transpirasi dapat dilakukan dengan metode penimbangan.
2.      Sampel yang diletakkan diluar lebih banyak terjadi transpirasi, hal ini dapat dilihat pada pengurangan air ketika tanaman dibiarkan selama 24 jam diluar ruangan .
3.      Pada tempat terang pengurangan air lebih banyak dibandingka tempat gelap.
4.      Proses transpirasi banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain, suhu, kelembababn , sinar matahari dan sebagainya (faktor luar) serta ukuran daun, bentuk stomata, dll (faktor dalam).
5.      Laju transpirasi pada tanaman yang terkena sinar matahari langsung berbeda dengan laju transpirasi pada tanaman yang tidak terkena sinar matahari langsung, meskipun jenis tanaman, jumlah daun dan media yang di gunakan sama.

B. Saran
Diharapkan kepada para praktikan kiranya dapat mematuhi semua peraturan yang berlaku selama  dalam  ruangan, dan  serius dalam mengikuti praktikum agar apa yang telah di praktekan dapat dipahami dengan baik.













DAFTAR PUSTAKA

Lakitan, B. 2007. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Salisbury, dan Ross. 1992. Fisiologi Tumbuhan. ITB Press. Bandung.

Sitompul, S. M. dan Guritno. B. 1995. Pertumbuhan Tanaman. UGM Press. Yogyakarta.

Tjitrosoepomo, H.S. 1998. Botani Umum. UGM Press. Yogyakarta.

Wilkins, M. B. 1989. Fisologi Tanaman. Bumi Aksara. Jakarta.
















LAMPIRAN

Description: C:\Users\HP\Documents\IMG-20190328-WA0041.jpg                    Description: C:\Users\HP\Documents\IMG-20190328-WA0036.jpg
             Gambar 1. Pembungkusan tanaman.                  Gambar 2. Penamaan tanaman.





Description: C:\Users\HP\Documents\IMG-20190328-WA0040.jpg                       Description: C:\Users\HP\Documents\IMG-20190328-WA0035.jpg
             Gambar 3. Penimbangan tanaman 1.                  Gambar 4. Penimbangan tanaman 2.

Description: C:\Users\HP\Documents\IMG-20190328-WA0038.jpg                          Description: C:\Users\HP\Documents\IMG-20190328-WA0033.jpg
             Gambar 5. Pengipasan tanaman.                       Gambar 6. Penimbangan tabel tanaman.


Description: C:\Users\HP\Documents\IMG-20190328-WA0034.jpg
Ganbar 7. Penimbangan gambar daun.