Rabu, 01 Mei 2019

LAPORAN PRAKTIKUM KURVA SIGMOID PERTUMBUHAN DDIT


Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan

KURVA SIGMOID PERTUMBUHAN
Hari/Jam  : Rabu/08.00-9.45 WIB
Asisten               : Juli Astri

Oleh :
KELOMPOK 6
NAMA                                                NIM
1.      Safriadi                                         1805108010033
2.      Fachrur Rozi Pasi                          1805108010029
3.      Reva Fazira                                   1805108010045
4.      Sarah Nadia                                  1805108010056













LABORATORIUM FISIOLOGI TUMBUHAN
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM BANDA ACEH
2019

I.                  PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang
      Pertumbuhan merupakan proses pertambahan ukuran sel, volume sel, berat,  tinggi, dan ukuran lainnya yang bisa dinyatakan secara kuantitatif (dapat  diukur dan dihitung dengan bilangan). Pertumbuhan sendiri menunjukkan suatu pertambahan dalam ukuran dengan menghilangkan konsep-konsep yang menyangkut perubahan kualitas seperti halnya pengertian mencapai ukuran penuh atau kedewasaan yang tidak relevan dengan pengertian proses pertumbuhan.
Pertumbuhan sendiri dapat diukur sebagai pertambahan panjang, lebar, atau luas, juga dapat diukur berdasarkan pertambahan volume, massa atau berat (segar atau kering). Pola pertumbuhan dapat dibagi dalam tiga fase pertumbuhan yaitu pertama fase logaritmik atau fase eksponensial, kemudian fase linier dan yang terakhir fase penurunan kadar cepat pertumbuhan yang kemudian disebut penuaan (senescene). Peningkatan kadar cepat pertumbuhan terjadi selama fase linier dan menurun menuju nol selama proses penuaan.
Tanaman secara alamiah tanaman sudah mengandung hormon pertumbuhan seperti Auksin, giberelin dan Sitokin yang dalam tulisan ini diistilahkan dengan hormon endogen. Kebanyakan hormon endogen di tanaman berada pada jaringan meristem yaitu jaringan yang aktif tumbuh seperti ujung-ujung tunas/tajuk dan akar. Tetapi karena pola budidaya yang intensif yang disertai pengelolaan tanah yang kurang tepat maka kandungan hormon endogen tersebut menjadi rendah/kurang bagi proses pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman. Akibatnya sering dijumpai pertumbuhan tanamaman lambat, kerontokan bunga/ buah, ukuran umbi/buah kecil yang merupakan sebagian tanda kekurangan hormon (selain kekurangan zat lainnya seperti unsur hara). Oleh karena itu penambahan hormon dari luar (hormon eksogen) seperti produk hormonik yang mengandung hormon Auksin, giberelin dan Sitokinin organik (Non sintetik/kimia) mutlak diperlukan untuk menghasilkan pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman yang optimal.

1.2       Tujuan Praktikum
            Meneliti laju tumbuh tanaman sejak dari embrio dalam biji, stadia vegetative sampai tumbuhan mencapai stadia generatif.
II. TINJAUAN PUSTAKA

Pertumbuhan didefinisikan sebagai pertambahan yang tidak dapat dibalikkan dalam ukuran pada sistem biologi. Secara umum pertumbuhan berarti pertambahan ukuran karena organisme multisel tumbuh dari zigot, pertumbuhan itu bukan hanya dalam volume, tapi juga dalam bobot, jumlah sel, banyaknya protoplasma, dan tingkat kerumitan. Pertumbuhan biologis terjadi dengan dua fenomena yang berbeda antara satu sama lain. Pertambahan volume sel dan pertambahan jumlah sel. Pertambahan volume sel merupakan hasil sintesa dan akumulasi protein, sedangkan pertambahan jumlah sel terjadi dengan pembelahan sel (Kaufman, 1975).
Pada setiap tahap dalam kehidupan suatu tumbuhan, sensitivitas terhadap lingkungan dan koordinasi respons sangat jelas terlihat. Tumbuhan dapat mengindera gravitasi dan arah cahaya dan menanggapi stimulus-stimulus ini dengan cara yang kelihatannya sangat wajar bagi kita. Seleksi alam lebih menyukai mekanisme respons tumbuhan yang meningkatkan keberhasilan reproduktif, namun ini mengimplikasikan tidak adanya perencanaan yang disengaja pada bagian dari tumbuhan tersebut (Campbell, 2002).
Pada batang yang sedang tumbuh, daerah pembelahan sel batang lebih jauh letaknya dari ujung daripada daerah pembelahan akar, terletak beberapa sentimeter dibawah ujung (tunas). Sedangkan pertambahan panjang tiap lokus pada akar tidak diketahui pertambahan panjang terbesar dikarenakan kecambah mati (Salisbury dan Ross, 1996).
Kurva sigmoid yaitu pertumbuhan cepat pada fase vegetatif sampai titik tertentu akibat pertambahan sel tanaman kemudian melambat dan akhirnya menurun pada fase senesen (Tjitrosoepomo, 1999).




III. METODOLOGI PERCOBAAN
3.1       Tempat dan Waktu Percobaan
Praktikum fisiologi tumbuhan tentang kurva sigmoid tumbuhan yang dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala. Pada hari Rabu, 27 Februari 2019, pukul 08.00 WIB.
3.2       Alat dan Bahan
Alat
1.    Kertas milimeter/mistar
2.    Pisau silet
3.    Polybag
4.    Tanah
5.    Pupuk kandang dengan perbandingan 2:1
Bahan
1.    Bahan tanaman Jagung ( Zea mays )

3.3        Cara Kerja
             Adapun metode kerja ang diogunakan pada praktikum ini adalah :
1.      Rendam benih 2-3 jam dalam gelas piala.
2.      Pilih 10 benih yang bak untuk percobaan ini.
3.      Kupas 3 benih dan buka kotiledonnya, ukur panjang pada embrionya dengan kertas millimeter, kemudian hitung nilai rata-ratamya.
4.      Tanam sisa benih dalam pot ( 5 tanaman/pot ).
5.      Adakan pengamatan sebagai berikut:
a.       Ukur tinggi tanaman (mulai dari pangkal akar hingga titik pertumbuhan tertinggi).
b.      Pegukuran dilakukan terhadap 2 tanaman ,dan sisanya dibuang.
c.       Tentukan rata-rata tinggi dan tiap-tiap pengukurannya.
d.      Buatlah grafik tinggi tanaman/minggu sebagai ordinat da waktu pengukuran (umur tanaman) sebagai absisnya.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Praktikum
Percobaan 1. Kurva Sigmoid Pertumbuhan

Minggu ke
Hasil Pengamatan
Tinggi Tanaman (cm)
Jumlah Daun (Helai)
1
13,5
14
3
3
2
38
41
5
5
3
75
68
8
7
4
123
110
10
9
5
140
125
12
11
6
169
145
13
12
7
175,5
160,3
14
13
8
178
165
14
13


4.2. Pembahasan
Percobaan mengenai kurva sigmoid ini bertujuan untuk mengamati laju tumbuh daun sejak dari embrio dalam biji hingga daun mencapai ukuran tetap pada tanaman. Pada percobaan ini dilakukan pengamatan menggunakan 10 biji Tanaman Jagung yang direndam dalam air selama 2-3 jam. Setelah direndam dalam gelas piala, diambil 3 biji Jagung lalu dikupas bagian kulit luarnya. Hal ini dilakukan untuk menghitung panjang kotiledon biji jagung (Zea mays). Kemudian  5 biji lainnya ditanam kedalam  polybag.
Percobaan ini dimulai dengan merendam biji jagung dalam air dengan maksud untuk memecah dormansinya. Kemudian mengukur panjang embrio beberapa sampel biji untuk melihat dan memastikan keadaan embrio sebelum ditanam. Kemudian sampel yang lain dari biji ditanam pada polybag untuk dilihat pertumbuhan dari tinggi tanaman sampai stadia generatif  yang di ukur setiap minggu ke-1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, dan 8.
Dari hasil pengamatan dapat diketahui bahwa tinggi tanaman Pertama mengalami kenaikan, kenaikan mula-mula tidak begitu cepat, namun lama kelamaan terus meningkat yaitu dari rata-rata 13,5 cm menjadi 38 cm, kemudian 75 cm lalu 123 cm, 140 cm, 169 cm, 175,5 cm dan 178 cm. Kenaikan ini menunjukkan ukuran kumulatif dari waktu ke waktu, dimana tanaman pada saat ini berada pada fase logaritmik. Hal ini sesuai dengan literatur Srigandono (1991) yang menyatakan bahwa kurva menunujukkan ukuran kumulatif sebagai fungsi dari waktu. Fase logaritmik berarti bahwa laju pertumbuhan lambat pada awalnya, tapi kemudian meningkat terus. Laju berbanding lurus dengan ukuran organisme.
Dari hasil pengamatan diketahui bahwa jumlah daun mengalami kenaikan. Pada miggu ke-1, ke-2 dan ke-3, pertumbuhan daun meningkat, dari 3 helai menjadi 5 helai kemudian menjadi 8 helai. Pada saat ini tumbuhan mengalami fase logaritmik, dimana laju pertumbuhan (v) sejalan dengan waktu (t). Pada minggu ke-4, ke-5 dan ke-6, laju pertumbuhan berlangsung konstan, yaitu dari rata-rata 10 helai menjadi 12 helai kemudian menjadi 13 helai dan tetap 14 helai pada minggu ke-7 dan 8. Saat ini tumbuhan memasuki fase linear.
            Sedangkan hasil pengamatan dapat diketahui bahwa tinggi tanaman Kedua mengalami kenaikan, kenaikan mula-mula tidak begitu cepat, namun lama kelamaan terus meningkat yaitu dari rata-rata 14 cm menjadi 41 cm, kemudian 68 cm lalu 110 cm, 125 cm, 145 cm, 160,3 cm dan 165 cm. Kenaikan ini menunjukkan ukuran kumulatif dari waktu ke waktu, dimana tanaman pada saat ini berada pada fase logaritmik..
Dari hasil pengamatan Tanaman Kedua diketahui bahwa jumlah daun mengalami kenaikan. Pada miggu ke-1, ke-2 dan ke-3, pertumbuhan daun meningkat, dari 3 helai menjadi 5 helai kemudian menjadi 7 helai. Pada minggu ke-4, ke-5 dan ke-6, laju pertumbuhan berlangsung konstan, yaitu dari rata-rata 9 helai menjadi 11 helai kemudian menjadi 12 helai dan tetap 13 helai pada minggu ke-7 dan 8. Hal ini sesuai dengan literatur Salisbury dan Ross (1992) yang menyatakan bahwa pada fase logaritmik, ukuran (v) bertambah secara eksponensial sejalan dengan waktu (t). Ini berarti bahwa laju pertumbuhan (dv/dt) lambat pada awalnya, tapi kemudian meningkat terus. Pada fase linear, pertambahan ukuran berlangsung secara konstan. Fase penuaan dicirikan oleh laju pertumbuhan yang menurun saat tumbuhan sudah mencapai kematangan dan mulai menua. 
V. PENUTUP DAN SARAN

5.1       Kesimpulan
1.    Kurva sigmoid yaitu menggambarkan pertumbuhan tanaman secara cepat pada fase vegetative sampai titik tertentu akibat pertambahan sel tanaman kemudian melambat dan akhirnya menurun pada fase senesen.
2.    Tumbuh adalah kenaikan volume yang tidak dapat balik,besarnya pertumbuhan per satuan waktu disebut laju tumbuh.
3.      Percobaan mengenai kurva sigmoid ini bertujuan untuk mengamati laju tumbuh daun sejak dari embrio dalam biji hingga daun mencapai ukuran tetap pada tanaman.
4.    Percobaan ini dimulai dengan menanam benih jagung dengan maksud untuk melihat pertumbuhan tinggi tanaman dan jumlah daun.
5.    Kurva sigmoid berbentuk huruf  S, yang menggambarkan 3 fase dalam pertumbuhan tanaman, yaitu :
·         fase eksponensial (logaritmik)
·         fase linear (konstan)
·         fase penuaan (penurunan)


5.2        Saran
Adapun saran ada percobaan ini yaitu agar mendapatkan hasil yang maksimal seperti yang di harapkan. Sebaiknya kita harus teliti dan meningkatkan kerja sama antara anggota kelompok.





DAFTAR PUSTAKA

Campbell. 2002. Analisis Pertumbuhan Tanaman. Gadjah Mada University Press : Yogyakarta

Kaufman, P. B. 1975.  Laboratory Experiment in Plant Physiology. Macmillan Publishing Co., Inc : New York

Kimbal, 1992. Tinjauan Konseptual Model Pertumbuhan dan Hasil Tegakan Hutan. USU-Digital Library : Medan

Salisbury, F.B dan C.W. Ross. 1992. Fisiologi Tumbuhan Jilid Tiga Edisi Keempat. ITB-Press : Bandung

Tjitrosoepomo, G. 1999. Botani Umum 2. Angkasa : Bandung
































LAMPIRAN



Gambar 1. Benih Di Tanam di Polybag

Description: C:\Users\ADEK-8\AppData\Local\Microsoft\Windows\Temporary Internet Files\Content.Word\IMG-20190501-WA0094.jpg 




Gambar 2. Benih Ditanam DiPolybag

Description: C:\Users\ADEK-8\AppData\Local\Microsoft\Windows\Temporary Internet Files\Content.Word\IMG-20190501-WA0095.jpg






Gambar 3. Jagung mulai Tumbuh

Description: C:\Users\ADEK-8\AppData\Local\Microsoft\Windows\Temporary Internet Files\Content.Word\IMG-20190501-WA0100.jpg