Laporan
Praktikum Fisiologi Tumbuhan
KURVA
SIGMOID PERTUMBUHAN
Hari/Jam : Rabu/08.00-9.45 WIB
Asisten
: Juli Astri
Oleh
:
KELOMPOK
6
NAMA NIM
1. Safriadi 1805108010033
2. Fachrur
Rozi Pasi 1805108010029
3. Reva Fazira 1805108010045
4. Sarah Nadia 1805108010056

LABORATORIUM FISIOLOGI
TUMBUHAN
PROGRAM STUDI
AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM BANDA ACEH
2019
I.
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Pertumbuhan merupakan proses pertambahan ukuran sel, volume
sel, berat, tinggi, dan ukuran lainnya
yang bisa dinyatakan secara kuantitatif (dapat
diukur dan dihitung dengan bilangan). Pertumbuhan sendiri menunjukkan
suatu pertambahan dalam ukuran dengan menghilangkan konsep-konsep yang
menyangkut perubahan kualitas seperti halnya pengertian mencapai ukuran penuh
atau kedewasaan yang tidak relevan dengan pengertian proses pertumbuhan.
Pertumbuhan sendiri
dapat diukur sebagai pertambahan panjang, lebar, atau luas, juga dapat diukur
berdasarkan pertambahan volume, massa atau berat (segar atau kering). Pola
pertumbuhan dapat dibagi dalam tiga fase pertumbuhan yaitu pertama fase
logaritmik atau fase eksponensial, kemudian fase linier dan yang terakhir fase
penurunan kadar cepat pertumbuhan yang kemudian disebut penuaan (senescene).
Peningkatan kadar cepat pertumbuhan terjadi selama fase linier dan menurun
menuju nol selama proses penuaan.
Tanaman secara alamiah
tanaman sudah mengandung hormon pertumbuhan seperti Auksin, giberelin dan
Sitokin yang dalam tulisan ini diistilahkan dengan hormon endogen. Kebanyakan
hormon endogen di tanaman berada pada jaringan meristem yaitu jaringan yang
aktif tumbuh seperti ujung-ujung tunas/tajuk dan akar. Tetapi karena pola
budidaya yang intensif yang disertai pengelolaan tanah yang kurang tepat maka
kandungan hormon endogen tersebut menjadi rendah/kurang bagi proses pertumbuhan
vegetatif dan generatif tanaman. Akibatnya sering dijumpai pertumbuhan
tanamaman lambat, kerontokan bunga/ buah, ukuran umbi/buah kecil yang merupakan
sebagian tanda kekurangan hormon (selain kekurangan zat lainnya seperti unsur
hara). Oleh karena itu penambahan hormon dari luar (hormon eksogen) seperti
produk hormonik yang mengandung hormon Auksin, giberelin dan Sitokinin organik
(Non sintetik/kimia) mutlak diperlukan untuk menghasilkan pertumbuhan vegetatif
dan generatif tanaman yang optimal.
1.2 Tujuan Praktikum
Meneliti
laju tumbuh tanaman sejak dari embrio dalam biji, stadia vegetative sampai
tumbuhan mencapai stadia generatif.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Pertumbuhan didefinisikan sebagai pertambahan yang tidak dapat
dibalikkan dalam ukuran pada sistem biologi. Secara umum pertumbuhan berarti
pertambahan ukuran karena organisme multisel tumbuh dari zigot, pertumbuhan itu
bukan hanya dalam volume, tapi juga dalam bobot, jumlah sel, banyaknya
protoplasma, dan tingkat kerumitan. Pertumbuhan biologis terjadi dengan dua
fenomena yang berbeda antara satu sama lain. Pertambahan volume sel dan
pertambahan jumlah sel. Pertambahan volume sel merupakan hasil sintesa dan
akumulasi protein, sedangkan pertambahan jumlah sel terjadi dengan pembelahan
sel (Kaufman, 1975).
Pada setiap tahap dalam kehidupan suatu tumbuhan, sensitivitas
terhadap lingkungan dan koordinasi respons sangat jelas terlihat. Tumbuhan
dapat mengindera gravitasi dan arah cahaya dan menanggapi stimulus-stimulus ini
dengan cara yang kelihatannya sangat wajar bagi kita. Seleksi alam lebih
menyukai mekanisme respons tumbuhan yang meningkatkan keberhasilan reproduktif,
namun ini mengimplikasikan tidak adanya perencanaan yang disengaja pada bagian
dari tumbuhan tersebut (Campbell, 2002).
Pada batang yang sedang tumbuh, daerah pembelahan sel batang lebih
jauh letaknya dari ujung daripada daerah pembelahan akar, terletak beberapa
sentimeter dibawah ujung (tunas). Sedangkan pertambahan panjang tiap lokus pada
akar tidak diketahui pertambahan panjang terbesar dikarenakan kecambah mati
(Salisbury dan Ross, 1996).
Kurva sigmoid yaitu pertumbuhan cepat pada fase vegetatif sampai
titik tertentu akibat pertambahan sel tanaman kemudian melambat dan akhirnya
menurun pada fase senesen (Tjitrosoepomo, 1999).
III.
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1
Tempat dan Waktu
Percobaan
Praktikum fisiologi tumbuhan tentang kurva
sigmoid tumbuhan yang dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan, Fakultas
Pertanian, Universitas Syiah Kuala. Pada hari Rabu, 27 Februari 2019, pukul
08.00 WIB.
3.2
Alat dan Bahan
Alat
1. Kertas
milimeter/mistar
2. Pisau
silet
3. Polybag
4. Tanah
5. Pupuk
kandang dengan perbandingan 2:1
Bahan
1.
Bahan tanaman Jagung ( Zea mays )
3.3
Cara Kerja
Adapun metode kerja ang diogunakan pada praktikum ini adalah :
1.
Rendam benih 2-3 jam dalam gelas piala.
2.
Pilih 10 benih yang bak untuk percobaan ini.
3.
Kupas 3 benih dan buka kotiledonnya, ukur
panjang pada embrionya dengan kertas millimeter, kemudian hitung nilai
rata-ratamya.
4.
Tanam sisa benih dalam pot ( 5 tanaman/pot ).
5.
Adakan pengamatan sebagai berikut:
a.
Ukur tinggi tanaman (mulai dari pangkal akar
hingga titik pertumbuhan tertinggi).
b.
Pegukuran dilakukan terhadap 2 tanaman ,dan
sisanya dibuang.
c.
Tentukan rata-rata tinggi dan tiap-tiap
pengukurannya.
d.
Buatlah grafik tinggi tanaman/minggu sebagai
ordinat da waktu pengukuran (umur tanaman) sebagai absisnya.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.
Hasil Praktikum
Percobaan
1. Kurva Sigmoid Pertumbuhan
|
Minggu ke
|
Hasil
Pengamatan
|
|||
|
Tinggi
Tanaman (cm)
|
Jumlah Daun
(Helai)
|
|||
|
1
|
13,5
|
14
|
3
|
3
|
|
2
|
38
|
41
|
5
|
5
|
|
3
|
75
|
68
|
8
|
7
|
|
4
|
123
|
110
|
10
|
9
|
|
5
|
140
|
125
|
12
|
11
|
|
6
|
169
|
145
|
13
|
12
|
|
7
|
175,5
|
160,3
|
14
|
13
|
|
8
|
178
|
165
|
14
|
13
|
4.2.
Pembahasan
Percobaan mengenai kurva sigmoid ini bertujuan untuk mengamati laju
tumbuh daun sejak dari embrio dalam biji hingga daun mencapai ukuran tetap pada
tanaman. Pada percobaan ini dilakukan pengamatan menggunakan 10 biji Tanaman Jagung
yang direndam dalam air selama 2-3 jam. Setelah direndam dalam gelas piala,
diambil 3 biji Jagung lalu dikupas bagian kulit luarnya. Hal ini dilakukan
untuk menghitung panjang kotiledon biji jagung (Zea mays). Kemudian 5
biji lainnya ditanam kedalam polybag.
Percobaan ini dimulai dengan merendam biji jagung dalam air dengan
maksud untuk memecah dormansinya. Kemudian mengukur panjang embrio beberapa
sampel biji untuk melihat dan memastikan keadaan embrio sebelum ditanam.
Kemudian sampel yang lain dari biji ditanam pada polybag untuk dilihat
pertumbuhan dari tinggi tanaman sampai stadia generatif yang di ukur
setiap minggu ke-1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, dan 8.
Dari hasil pengamatan dapat diketahui bahwa tinggi tanaman Pertama
mengalami kenaikan, kenaikan mula-mula tidak begitu cepat, namun lama kelamaan
terus meningkat yaitu dari rata-rata 13,5 cm menjadi 38 cm, kemudian 75 cm lalu
123 cm, 140 cm, 169 cm, 175,5 cm dan 178 cm. Kenaikan ini menunjukkan ukuran
kumulatif dari waktu ke waktu, dimana tanaman pada saat ini berada pada fase
logaritmik. Hal ini sesuai dengan literatur Srigandono (1991) yang menyatakan
bahwa kurva menunujukkan ukuran kumulatif sebagai fungsi dari waktu. Fase
logaritmik berarti bahwa laju pertumbuhan lambat pada awalnya, tapi kemudian meningkat
terus. Laju berbanding lurus dengan ukuran organisme.
Dari hasil pengamatan diketahui bahwa jumlah daun mengalami
kenaikan. Pada miggu ke-1, ke-2 dan ke-3, pertumbuhan daun meningkat, dari 3
helai menjadi 5 helai kemudian menjadi 8 helai. Pada saat ini tumbuhan
mengalami fase logaritmik, dimana laju pertumbuhan (v) sejalan dengan waktu
(t). Pada minggu ke-4, ke-5 dan ke-6, laju pertumbuhan berlangsung konstan,
yaitu dari rata-rata 10 helai menjadi 12 helai kemudian menjadi 13 helai dan
tetap 14 helai pada minggu ke-7 dan 8. Saat ini tumbuhan memasuki fase linear.
Sedangkan hasil pengamatan dapat diketahui bahwa tinggi tanaman Kedua mengalami kenaikan, kenaikan mula-mula tidak begitu cepat, namun lama kelamaan terus meningkat yaitu dari rata-rata 14 cm menjadi 41 cm, kemudian 68 cm lalu 110 cm, 125 cm, 145 cm, 160,3 cm dan 165 cm. Kenaikan ini menunjukkan ukuran kumulatif dari waktu ke waktu, dimana tanaman pada saat ini berada pada fase logaritmik..
Sedangkan hasil pengamatan dapat diketahui bahwa tinggi tanaman Kedua mengalami kenaikan, kenaikan mula-mula tidak begitu cepat, namun lama kelamaan terus meningkat yaitu dari rata-rata 14 cm menjadi 41 cm, kemudian 68 cm lalu 110 cm, 125 cm, 145 cm, 160,3 cm dan 165 cm. Kenaikan ini menunjukkan ukuran kumulatif dari waktu ke waktu, dimana tanaman pada saat ini berada pada fase logaritmik..
Dari hasil pengamatan Tanaman Kedua diketahui bahwa jumlah daun
mengalami kenaikan. Pada miggu ke-1, ke-2 dan ke-3, pertumbuhan daun meningkat,
dari 3 helai menjadi 5 helai kemudian menjadi 7 helai. Pada minggu ke-4, ke-5
dan ke-6, laju pertumbuhan berlangsung konstan, yaitu dari rata-rata 9 helai
menjadi 11 helai kemudian menjadi 12 helai dan tetap 13 helai pada minggu ke-7
dan 8. Hal ini sesuai dengan literatur Salisbury dan Ross (1992) yang
menyatakan bahwa pada fase logaritmik, ukuran (v) bertambah secara eksponensial
sejalan dengan waktu (t). Ini berarti bahwa laju pertumbuhan (dv/dt) lambat
pada awalnya, tapi kemudian meningkat terus. Pada fase linear, pertambahan
ukuran berlangsung secara konstan. Fase penuaan dicirikan oleh laju pertumbuhan
yang menurun saat tumbuhan sudah mencapai kematangan dan mulai menua.
V.
PENUTUP DAN SARAN
5.1
Kesimpulan
1. Kurva sigmoid yaitu menggambarkan pertumbuhan tanaman secara cepat
pada fase vegetative sampai titik tertentu akibat pertambahan sel tanaman
kemudian melambat dan akhirnya menurun pada fase senesen.
2. Tumbuh adalah kenaikan volume yang tidak dapat balik,besarnya
pertumbuhan per satuan waktu disebut laju tumbuh.
3. Percobaan mengenai kurva sigmoid ini bertujuan untuk mengamati
laju tumbuh daun sejak dari embrio dalam biji hingga daun mencapai ukuran tetap
pada tanaman.
4. Percobaan ini dimulai dengan menanam
benih jagung dengan maksud untuk melihat pertumbuhan tinggi tanaman dan jumlah
daun.
5. Kurva sigmoid berbentuk huruf S, yang menggambarkan 3 fase dalam
pertumbuhan tanaman, yaitu :
·
fase
eksponensial (logaritmik)
·
fase
linear (konstan)
·
fase
penuaan (penurunan)
5.2
Saran
Adapun
saran ada percobaan ini yaitu agar mendapatkan hasil yang maksimal seperti yang
di harapkan. Sebaiknya kita harus teliti dan meningkatkan kerja sama antara anggota
kelompok.
DAFTAR PUSTAKA
Campbell.
2002. Analisis Pertumbuhan Tanaman. Gadjah Mada University Press :
Yogyakarta
Kaufman,
P. B. 1975. Laboratory Experiment in Plant Physiology.
Macmillan Publishing Co., Inc : New York
Kimbal,
1992. Tinjauan Konseptual Model Pertumbuhan dan Hasil Tegakan Hutan.
USU-Digital Library : Medan
Salisbury,
F.B dan C.W. Ross. 1992. Fisiologi Tumbuhan Jilid Tiga Edisi Keempat.
ITB-Press : Bandung
Tjitrosoepomo, G. 1999. Botani Umum 2. Angkasa :
Bandung
LAMPIRAN
Gambar 1. Benih Di Tanam di Polybag
Gambar 2. Benih Ditanam DiPolybag

Gambar 3. Jagung mulai Tumbuh

Tidak ada komentar:
Posting Komentar